Jumat, 30 Oktober 2009

Catatan-catatan 7 Hari eps.1

Selama 7 hari ini, banyak hal yang saya temukan. salah satunya menginspirasikan saya untuk membuat cerpen ini.
Selamat Membaca !

Gerin

Pukul 23.45, hampir tengah malam, aku baru saja menyelesaikan sesi latihan terakhir sebelum bertanding esok hari. Kalau saja aku seorang Cinderella, maka beberapa saat lagi aku akan berubah menjadi Upik Abu. Untungnya aku bukan seorang Cinderella. Perkenalkan, namaku Kirana. Cukup panggil aku dengan Kiran. Asal kamu tahu, aku adalah seorang pembalap mobil slalom. Tak usak heran, karena ayahku adalah seorang mantan pembalap mobil nasional dan sahabat terbaikku juga seorang pembalap slalom.
Sebenarnya, baru beberapa tahun ini aku menggeluti balap mobil slalom. Semua berawal saat perkenalanku dengan Gerin, seorang pembalap slalom muda yang termasuk sukses di Indonesia. Ia murid baru di sekolahku, SMA Global Mandiri. Gerin pindahan dari Bandung.
”Hai, boleh aku duduk di sini?” tanya Gerin saat menyapaku untuk pertama kalinya. Ia bermaksud untuk duduk sebangku denganku.
“Silakan.” hanya kata itu yang dapat terlontar dari mulutku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan kehadiran Gerin saat itu. Tidak seperti anak perempuan lainnya di kelasku yang heboh bukan main ketika melihatnya.
Lalu, Gerin menarik bangkunya dan duduk di sebelahku. Beberapa saat kami terdiam, bukan karena tak ada topik, tapi memang aku malas untuk berbicara dengannya.
“Maaf, apa kamu merasa tak nyaman duduk sebangku denganku?” tanyanya tiba-tiba. Mungkin itulah kalimat yang digunakannya untuk membuka percakapan denganku.
“Tidak. Aku hanya sedang berusaha untuk mengerjakan soal matematika ini.” jawabku singkat.
“Boleh aku lihat?” tanya Gerin padaku. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia memperkenalkan dirinya. “Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Gerin Keitaro. Panggil saja aku Gerin. Kamu?“ tanyanya lagi pada ku.
“Kirana Larasati. Panggil saja Kiran.” lagi-lagi aku menjawab pertanyaannya dengan singkat. Tanpa berkata apa-apa aku menyerahkan bukuku padanya. Gerin tampak berusaha untuk mengerjakannya.
Dari percakapan singkat itulah aku mulai membuka diri untuk lebih mengenalnya. Ya, mengenal seorang Gerin yang membawaku pada duniannya yang begitu berwarna. Banyak hal baru yang aku kenal dari seorang Gerin. Gerin benar-benar mengenalkanku pada dunia luar yang tak pernah terpikirkan, bahkan terbayangkan olehku untuk menjadi bagian di dalamnya.
Enam bulan berlalu, cukup bagi kami untuk saling mengenal dan menjadi sepasang sahabat. Malam itu, tepat pukul 24.00, Gerin datang ke rumahku. Lalu, tanpa aku ketahui ternyata Gerin telah mempersiapkan sebuah kejutan bersama kedua orangtuaku sebagai hadiah dihari ulang tahunku yang ke-17.
Tok..tok.. Suara pintu kamarku diketuk. Dengan mata yang tak bisa berkompromi, aku bangun dan membukanya. Saat aku membukanya, Gerin tepat berdiri di depan pintu dan sukses membuatku terlonjak karena kaget melihatnya.
“Selamat ulang tahun Kiran!!” teriak Gerin, Ayah dan Bunda. Jujur, saat itu aku benar-benar merasa bahagia, terharu, ah, semua rasa bercampur menjadi satu. Gerin membawakan seloyang tiramisu kesukaanku, sedangkan Ayah dan Ibu membawa sebuket bunga tulip putih dan merah.
“Ayo Kiran, ditiup dulu lilinnya, jangan lupa make a wish dulu.” kata Ayah padaku.
Dalam hati aku berdoa. Tuhan, terima kasih untuk segalanya. Semoga kebahagiaan ini bisa abadi. Berikan yang terbaik untukku. Sekali lagi Tuhan, terima kasih dan terima kasih. Setelah itu, aku meniup lilin yang terpasang kokoh diseloyang tiramisu. Lalu, Ayah dan Bunda memelukku dan mencium keningku satu persatu. Gerin tak ketinggalan memelukku sambil megacak-acak rambutku.
“Terima kasih untuk kejutannya!!” kataku sambil memotong tiramisu. “Potongan pertama akan aku berikan pada kalian bertiga yang telah mengisi hari-hariku dengan begitu indah.” kataku sedikit berlebihan.
“Kiran, ayo ikut denganku. Masih ada kejutan yang menunggumu.” ajak Gerin.
Aku melihat pada Ayah dan Bunda. Keduanya hanya tersenyum manis pertanda mengijinkanku untuk pergi bersama Gerin. Aku bergegas mengganti pakaianku dan keluar menemui Gerin yang telah menungguku di balik kemudi mobilnya.
Jalanan yang kami lewati begitu sepi. Ya, karena sekarang jam menunjukkan pukul 01.00 pagi. Sepanjang perjalanan, aku dan Gerin bercerita banyak hal. Mulai dari sekolah, teman-teman hingga mobil-mobil yang pantas aku gunakan untuk balapan sambil mendengar alunan lagu dari Bryan Adams kesukaan kami. Ya, sekarang aku mulai belajar teknik-teknik dalam slalom yang harus aku kuasai dan bertekad untuk menjadi pembalap.
“Kiran, kamu udah yakin mau jadi pembalap?” tanya Gerin padaku.
“Kalau aku gak yakin, kenapa dari kemarin aku latihan sama kamu?” tanyaku pada Gerin.
Gerin menjawab pertanyaanku dengan senyumannya yang menawan. Ia memang tidak begitu yakin bahwa aku benar-benar ingin menjadi seorang pembalap. Padahal Gerin lah yang mengenalkanku pada slalom. Aneh, kataku dalam hati.
Setengah jam kemudian, aku dan Gerin sampai disebuah tempat. Awalnya, aku tak percaya kemana Gerin membawaku. Tidak, aku sekarang yakin. Gerin membawaku ke sirkuit balap.
“Kiran, udah nyampe!” katanya menyadarkanku.
“Ini sirkuitkan?” tanyaku singkat. Aku yakin sekarang wajahku benar-benar terlihat bodoh. Dasar Kirana bodoh. Hahaha.....
“Iya Kiran, ini sirkuit. Yuk, turun.” ajaknya padaku.
Aku turun dan membuntutinya kemana Gerin melangkah. Ternyata Gerin membawaku ke sebuah taman kecil yang ada di samping kanan sirkuit. Lalu, kami duduk di bangku satu-satunya yang ada di taman itu. Walaupun udara terasa begitu menusuk tulang, tapi bintang-bintang berkelap-kelip seakan tersenyum padaku dan Gerin.
“Gerin, terima kasih ya, selama ini kamu udah banyak kasih aku hal-hal baru.” kataku. Apa yang aku katakan pada Gerin benar-benar tulus dari dala hati.
Gerin tersenyum yang lagi-lagi sangat menawan. “Sama-sama. Asal kamu tahu Kiran, aku hanya ingin berbagi apa yang aku tahu denganmu. Aku tak mau hidupku sia-sia tanpa membahagiakan seorangpun.” jawab Gerin sambil tersenyum simpul.
Jawaban Gerin membuatku bertanya-tanya dalam hati, apa maksud jawaban Gerin sebenarnya. Ah, tak usah terlalu dipikirkan.
“Kiran, kamu mau janji sama aku?” tanya Gerin dengan lembut.
“Janji apa?” tanyaku pada Gerin.
“Janji bahwa kita akan selalu menjadi sepasang sahabat yang akan saling melindungi saat bahaya datang, menguatkan saat salah satu diantara kita rapuh dan menasehati saat salah satu dari kita salah melangkah.” ucap Gerin sambil menatap dalam-dalam mataku.
“Ya, aku berjanji dengan Tuhan dan bintang yang berkelip sebagai saksinya.” jawabku dengan mantap.
Gerin lalu memelukku dan rasa hangat itu datang tiba-tiba. Lama Gerin memelukku hingga akhirnya aku memintanya untuk melepasnya. Ya, hari itulah kami mengikrarkan untuk menjadi sepasang sahabat yang akan saling melindungi saat bahaya datang, menguatkan saat salah satu diantara kami rapuh dan menasehati saat salah satu dari kami salah melangkah. Ya, itulah janji yang kami ikrarkan dan tak akan pernah kami ingkarkan.
Gerin melihat jam yang terpasang di tangannya. Lalu, Gerin mengajakku pulang ke rumah karena waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Kami berjalan beriringan menuju mobil. Kami membisu karena udara yang semakin dingin.
Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Gerin hanya terdiam menikmati lagu-lagu Celine Dion yang juga merupakan kesukaan kami.
Sesampainya di depan rumah, Gerin turun dan membukakan pintu untukku. Aneh tak biasanya Gerin melakukannya, kataku dalam hati. Aku turun dari mobilnya.
“Gerin terima kasih ya!” kataku dengan sangat bahagia.
“Untuk apa Kiran?” tanyanya padaku.
“Untuk kejutan-kejutan yang mengejutkan, unutk pagi yang indah dan untuk menjadi sahabatku.” kataku dengan sedikit terharu.
“Ya, sama-sama Kiran. Sampai jumpa lagi” jawabnya. Lalu, ia melangkah masuk ke mobilnya dan melaju kencang menelusuri sepinya pagi. Sedangkan aku, aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar.
Di kamar, aku benar-benar terlalu senang. Sampai-sampai sulit rasanya memejamkan mata. Walaupun kupaksakan untuk memejamkan mata, tetap tak terpejam. Kuraih handphoneku dan aku ketik sebuah pesan untuk Gerin, sahabatku.
Gerin, terima kasih ya untuk semua yang telah kau berikan padaku. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Begitulah kira-kira bunyi pesan yang aku kirim untuk Gerin. Setelah itu, aku tertidur pulas.
Dua hari setelah kejutan yang begitu indah, Gerin tak juga muncul dihadapanku. Ia tidak masuk sekolah, tidak membalas pesan-pesan singkat yang aku kirim, juga tidak menjawab ratusan teleponku. Ada apa dengan Gerin? gumamku dalam hati.
Akhirnya sepulang sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Gerin sendirian. Sesampainya di sana, aku melihat mobil balap Gerin terparkir di garasi. Hah, aku lega. Itu pertanda Gerin ada di rumah.
Tok..tok.. Kuketuk pintu rumah Gerin. Tak lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untukku. Beliau terlihat begitu letih, namun tetap terlihat anggun. Beliau Tante Kimi, Bunda Gerin.
“Siang, Tante.” sapaku saat beliau membukakan pintu.
“Siang. Oh, Kiran. Ayo masuk!” Beliau membimbingku masuk ke dalam rumahnya. Dipersilakannya aku untuk duduk di ruang keluarga seperti biasanya.
“Gerin ada, Tante?” tanyaku langsung tanpa berbasa-basi.
Tante Kimi terlihat sedih begitu aku menanyakan Gerin. Matanya berkaca-kaca. Tatapannya kosong. Beliaupun tak segera menjawab pertanyaanku. Aku semakin cemas memikirkan Gerin.
“Ada apa, Tante? Ceritakan saja padaku. Ku mohon, Tante!” rengekku agar beliau menceritkan apa yang terjadi.
Air mata beliau tumpah seketika. Dengan terisak-isak beliau menjawab pertanyaanku. Sekata, dua kata, satu kalimat, dua kalimat, hingga akhirnya beliau selesai menceritakannya padaku. Aku bingung dengan apa yang aku dengar. Rasa ketidak percayaanku begitu besar. Aku tak pernah tahu dan tak pernah diberi tahunya. Gerin ternyata mengidap kanker otak stadium akhir. Ya, kanker otak, teman.
Saat itu, aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku ucapkan dan apa yang harus aku katakan. Aku benar-benar sedih mendengarnya. Ingin aku menangis, tapi ku tahan. Lalu, aku segera pamit pulang dan tanpa ba bi bu aku langsung berlari keluar rumah Gerin.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan menangis sesunggukan karena Gerin. Gerin tak pernah menceritakan hal itu padaku. Aku ingat salah satu janji yang kami ikrarkan, yaitu menguatkan saat salah satu di antara kami rapuh. Gerin sedang rapuh sekarang. Aku harus berbuat sesuatu. Aku memikirkannya hingga aku tertidur dan terbangun esok harinya.
Pagi-pagi, aku langsung bergegas pergi ke rumah sakit tempat Gerin dirawat. Aku mengendarai mobilku sekencang yang aku bisa. Oh ya, hari itu memang aku memutuskan untuk membolos.
Sesampainya di sana, aku bertanya pada perawat yang berjaga.
“Maaf, dimana kamar Gerin Keitaro?” tanyaku pada si perawat yang terlihat sedikit mengantuk.
“Di kamar Dahli nomer 12 A lantai 4” jawab si perawat.
Aku segera berlari menuju kamar itu. Tak sulit untukku segara menemukannya. Sesampainya di sana, aku melihat Tante Kimi yang sedang duduk di luar. Segera aku menyapanya dan beliau memintaku masuk menemui Gerin.
Saat aku akan masuk, aku takut dengan apa yang akan aku lihat. Namun, ku kuatkan hatiku untuk masuk dan melihat Gerin. Sungguh, ingin rasanya aku menangis ketika kulihat ia terbaring lemah. Seperti bukan seorang Gerin yang energik, pandai dan selalu riang. Kudekati kasur tempat Gerin terbaring.
“Kiran?” panggil Gerin dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Iya,Ger. Ini Kiran.” jawabku dengan terbata-bata.
“Kiran, maaf ya, aku gak pernah cerita ke kamu tentang ini semua.” kata Gerin.
“Gak apa-apa kok. Yang penting sekarang kamu cepet sembuh. Biar bisa balapan lagi” kataku menghiburnya dengan mataku berkaca-kaca.
“Ya, Kiran. Doakan aku ya agar Tuhan masih memberikan aku kesempatan untuk melihat matahari besok pagi.” katanya yang membuatku bertambah sedih saat mendengar harapannya.
Seharian aku menunggunya, menemaninya melawan ganasnya penyakit yang diidapnya. Rasanya benar-benar seperti mimpi. Bayangkan saja, kamu menemani seorang sahabatmu yang benar-benar kamu sayang saat Ia melawan penyakitnya! Tak pernah ada yang membayangkannya, bukan?
Dua hari setelah itu, aku dikagetkan dengan telepon Tante Kimi. Tante Kimi menyampaikan sebuah berita yang benar-benar menyedihkan. Gerin meninggal. Tangisku pecah seketika. Bunda menghampiriku.
“Ada apa, Kiran?” tanyanya dengan panik.
“Gerin, Bun. Gerin...” jawabku tanpa menyelesaikan kata terakhir.
“Gerin kenapa?” tanya Bunda lagi.
“Meninggal.” aku menjawab. Bunda menangis dan memelukku.
Paginya, Bunda dan Ayah memintaku untuk ikut bersamanya pergi ke pemakaman Gerin. Aku bingung dan takut. Apa aku harus datang dan menlihat Gerin terakhir kali atau tetap tinggal di rumah? pikirku dalam hati. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dan kalau nanti aku sudah lebih tenang, aku akan berangkat ke pemakamannya sendiri.
Tapi, aku bohong pada diriku. Aku tak pernah datang ke pemakamannya. Bahkan menjenguknya pun aku tak pernah. Hanya doa yang selalu aku kirim untuknya.
Hari ini, 26 Desember 2014, tepat lima tahun Gerin meninggal. Aku beranikan untuk datang ke makam tempatnya tinggal. Aku membawa sebuket bunga tulip merah dan putih seperti yang pernah Gerin bawa untukku, serta sebuah piala juara 1 International Night Slalom yang berhasil aku dapatkan. Piala itu, aku dedikasikan untuk Gerin, sahabatku yang telah mengenalkanku pada slalom.
Aku pandangi gundukan tanah yang dilapisi rumput hijau dan bunga-bungaan itu. Lalu, batu nisannya dengan ukiran nama, ‘Gerin Keitaro’. Aku usap nisan itu lalu duduk di sampingnya.
Gerin.
Hari ini sudah lima tahun sejak kamu meninggalkan aku sendiri. Tapi, kenapa ya, aku masih saja ingat kamu? Setiap lihat sirkuit, setiap balapan, setiap makan tiramisu, pasti aku langsung inget kamu. Sebenarnya, masih banyak hal yang aku ingin tahu dari kamu. Aku yakin masih banyak yang belum kamu tunjukkan ke aku. Tapi, sepertinya Tuhan lebih ingin kamu bertemu dengan kamu ya, Ger? Buktinya Dia manggil kamu ke sana.
Gerin.
Maaf aku enggak hadir di pemakaman kamu dulu. Maaf karena aku terlalu takut untuk melihatmu terakhir kalinya. Maaf karena aku terlalu pengecut untuk melihatmu terbujur kaku. Maaf karena aku tak pernah datang menjengukmu di sini. Maaf. Sebenarnya, ini semua hanya akal-akalanku untuk bisa melupakanmu dan semua kenangan kita. Tapi, ternyata saya enggak bisa.
Aku selalu ingat akan janji yang pernah kita ikrarkan dan tak pernah kita ingkarkan. Walaupun kita hanya bertemu sebentar, tapi saya yakin, Tuhan memang mengirimkanmu untuk menjadi sahabatku. Aku sangat bahagia bisa mengenal dan pernah mengenalmu, Gerin.
Gerin.
Piala ini untuk kamu. Ini kemenangan yang aku raih untukmu. Terima kasih telah mengenalkan aku pada dunia slalom. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah memberikan aku kenangan-kenangan yang indah dan tak terlupakan.
Aku tak kuat lagi untuk tidak menangis. Aku menangis di sisinya. Saat itu, aku merasa bahwa Gerin juga hadir di sana bersamaku.